Macam-macam Konflik dan Cara
Memanajemen Konflik dalam Organisasi
konflik adalah suatu hal yang sulit di hindari dalam
kehidupan manusia dimana keinginan atau kehendak yang berlawanan atau berbeda
antara satu dengan yang lainnya, akibatnya membuat salah satu atau keduanya
terganggu.
Macam-macam
Konflik :
konflik dalam organisasi, konflik dalam organisasi
bisa dibedakan menjadi 3 bagian :
1. Dilihat bedasarkan pihak yang terlibat dalam
konflik
·
Konflik satu individu dengan
individu lainnya

From: forum.maxmanroe.com
Konflik seperti ini bisa terjadi antara individu
pimpinan dengan pimpinan dari berbagai tingkat. Individu pimpinan dengan
individu karyawan ataupun individu karyawan dengan individu karyawan yang lain.
·
Konflik kelompok dengan kelompok

From: forum.maxmanroe.com
Konflik seperti ini dapat terjadi antara kelompok
pimpinan dengan kelompok kryawan, kelompok pimpinan dengan kelompok pimpinan
lain dalam berbagai jabatan ataupun kelompok karywan dengan kelompok karyawan
yang lain.
·
Konflik individu dengan kelompok

From: tekno.liputan6.com
Konflik sperti ini bisa terjadi antara individu
pimpinan dengan kelompok ataupun antara karyawan individu dengan kelompok
pimpinan.
2. Dilihat dari sudut pandang dampak
yang timbul
Dari sudut pandang dampak yang timbul, Konflik
dibedakan menjadi dua :
·
Konflik Fungsional
Adalah jika dampaknya bisa memberi manfaat atau
keuntungan bagi organisasi serta bisa dikelola dan difahami dengan baik. Pasti
saja konflik seperti ini dapat terwujud jika konflik dikendalikan dann dikelola
dengan baik.
Contoh: Persaingan antara kelompok karyawan dengan
pemimpin untuk membuktikan skill mereka dan juga konflik berupa persaingan
untuk menjadi yang lebih baik antara devisi dalam suatu organisasi
·
Konflik Infungsional
Adalah jika dampaknya tidak menguntungkan atau tidak
memberikan manfaat untuk berlangsungnya dan jalannya suatu organisasi, justru
merugikan orang lain konflik semacam ini memberi kerugian terhadap individu
ataupun organisasi. Seperti halnya konflik yang tidak diinginkan dan terjadi di
luar kontrol serta pengawasan kita.
Manajemen
Konflik

From: patrarijaya.co.id
Manajemen konflik adalah suatu
proses pembuatan rencana dan mengendalikan kondisi yang tidak sesusai dan
terjadi di antara pihak-pihak.
Sedangkan menurut ahli manajemen konflik adalah
seperti berikut :
a. Menurut Stoner
Adalah suatu proses membuat perencanaan,
pengorganisasian, memimpin dan mengendalikan berbagai usaha anggota dalam
organisasi dan menggunakan semua sumber daya dari organisasi untuk mencapai
sebuah tujuan tertentu.
Di dalam manajemen konflik hal yang paling utama
adalah bagaimana cara mengendalikan masalah atau konflik-konflik yang terjadi
di antara para pihak. Untuk lebih memahami tentang manajemen konflik, Stevenin
mengemukakan ada lima langkah untuk memanaj konflik yang bersifat mendasr
sebagai berikut :
1.
Manajemen Konflik Pengenalan
Jika kita ingin memanaj konflik, pengenalan meruupakan
Strategi untuk mengatasi suatu masalah yang terjadi. Kesalahan dalam mendeteksi
(tidak memperdulikan masalah atau menganggap ada konflik yang sebenarnya tidak
ada konflik)
2.
Manajemen Konflik Diagnosa
Diagnosa adalah salah satu dari manajemen konflik.
Sebuah metode yang benar dan sudah teruji mengenai apa?, mengapa?, bagaimana?.
dan dimana? berhasil dengan sempurna. Dalam studi ini pusatkan perhatian pada
masalah yang utama, buka kepada hal-hal yang sepele.
3.
Manajemen Konflik Menyepakati Suatu Solusi
Dengan menyepakati suatu solusi kita dapat menghindari
konflik. Cara ini merupakan salah satu tekhnik manajemen konflik yang paling
efektif
4.
Manajemen Konflik Pelaksanaan
Cara manajemen konflik konflik yang selanjutnya adalah
pelaksanaan. Dalam setiap pelaksanaan selalu ada yang namanya untung dan rugi,
jadi jangan sampai pertimbangan ini terlalu mempengaruhi arah dan pilihan
kelompok
5.
Manajemen Konflik Evaluasi
Strategi ini merupakan tekhnik manajemen konflik yang
baik menurut saya karena dengan mengevaluasi diri kita bisa tahu dimana letak
kekurangan, kesalahan dan kelebihan kita, selain itu dengan mengevaluasi kita
akan lebih profesioanal dalam menghadapi suatu konflik dikemudian hari.
Stevenin juga memaparkan bahwa ketika sedang mengalami konflik. ada beberapa hal
yang tidak boleh dilakukan di tengah-tengah konflik sebagai berikut :
1. Jangann hanyut pada hal perebutan kekuasaan dengan
orang lain. Bila wewenang bertam bah maka kekuasaan pun akan berkurang, begitu
juga sebaliknya
2. Jangan terlalu jauh dari konflik. Dinamika dan
hasil konflik bisa ditangani secara baik dari dalam tanpa melibatkan pihak
ketiga.
3. Jangan biarkan visi dibangun oleh konflik yang ada,
Jagalah cara pandang dengan berkonsentrasi dalam masalah-masalah penting.
Masalah yang ada dan paling mendesak belum tenti merupakan kesempatan yang
terbesar.
Stretegi-strategi
mengatasi konflik :

From: bola.liputan6.com
1. Strategi konflik perorangan atau
individu (Intraindividual Conflict)
Menurut wijono :
a. Menciptakan kontak dan membina hubungan
b. Menumbuhkan rasa percaya dan menerima
c. menumbuhkan kekuatan atau kemampuan diri sendiri
d. Menentukan sebuah tujuan
e. Mencari alternatif lain
f. Menentukan alternatif
g. Melaksanakan perencanaan untuk menyelesaikan
masalah (jalan keluar)
2.
Strategi konflik anatar perorangan/antar individu (Interpersonal Conflict)
menurut wijoyono :
a. Strategi Kalah-kalah (lose-lose
strategy)
Berorentasi pada dua individu atau kempok yang
sama-sama kalah. Biasanya kelompok atau individu yang bersangkutan mengambil
jalan tenganh (Bermusyawarah) atau membayar sekelompok orang yang telibat dalam
suatu konflik, menggunakan jasa orang atau kelompok ketiga yang berkaitan
dengan konflik sebagai pihak ketiga untuk penengah.
Dalam strategi ini, konflik dapat diselesaikan dengan
cara melibatkan pihak ketiga apabila musyawarah mengalami jalan buntu. Maka
pihak ketiga diundang untuk campur tangan dengan pihak-pihak yang berselisih.
Ada dua tipe dalam camput tangan pihak ketiga ini
yaitu sebgai berikut :
a. Mediasi (Mediation)
Mediasi dipergunakan oleh mediator untuk menyelesaikan
masalah tidak seperti dengan arbitrasi, karena seorang mediator tidak mempunyai kekuasaan secara langsung terhadap
pihak-pihak yang bertikai dan rekomendai yang diberikan bersifat tidak
mengikat.
b. Arbitasi (Arbitration)
Arbitrasi adalah prosedur dimana pihak ketiga
mendengarkan kedua belah pihak yang berselisih, pihak ketiga bertindak sebagai
hakim dan penengah dalam menentukan penyelesian konflik melalui suatu akad yang
mengikat.
2. Strategi Kalah-menang (lose-win
Strategy)
Dalam strategi kalah menang menekankan adanya salah
satu pihak yang sedang berselisih mengalami kekalahan tetapi yang lainnya
memperoleh kemenangan.
Berikut beberapa cara strategi kalah-menang yang
digunakan untuk menyelesaikan konflik menurut wijono adalah sebagai berikut :
a. Melarikan diri
Maksudnya Proses menyelesaikan konflik antara dua atau
lebih antara pihak yang kurang puas sebagai akibat dari ketergantungan tugas
(task independence)
b. Taktik damai dan penghalusan
adalah dengan melakukan tindakan pendamaian dengan
pihak lawan untuk mengindari terjadinya konfrontasi pada kekaburan dan
perbedaan dalam batas-batas bidang kerja (jurisdictioanal ambiquity)
c. Bujukan
Adalah dengan membujuk pihak untuk mengubah posisinya
untuk mempertimbangkan informasi- informasi yang faktual dan relevan dengan
konflik. Dikarenakan adanya rintangan dalama komunikasi (communication
barriers)
d. Taktik tekanan dan paksaan
Adalah dengan cara menggunakan kekuasaan formal dengan
menunjukkan kekuatan (power) melalui sikap otoriter kerena dipengaruhui oleh
siat-sifat individu (individual traits)
e. Taktik yang dominan pada
tawar-menawar
Tawar menawar dan pertukaran persetujuan sehingga
terciptalah suatu kompromi yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, guna
menyekesaikan konflik yang berkaitan dengan persaingan terhadap sumber-sumber
(competition for resources) secara optimal bagi pihak-pihak yang
berkepentingan.
3.
Strategi Menang-menang (Win-win Strategy)
Penyelesaian yang dipandang oleh sebagian besar
manusia, karena menggunakan segala pengetahuan, ketrampilan dan sikap serta
menciptakan relasi komunikasi, interaksi yang bisa membuat pihak-pihak yang
terlibat saling merasa aman dari ancaman, menciptakan suasana kondusif, merasa
dihargai dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi masing-masing
sebagai upaya penyelesaian konflik.
Jadi strategi ini membantu memecahkan masalah
pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, bukannya hanya untuk memojokka orang.
Strategi ini jarang digunakan dalam organisasi dan industri, Namun ada 2 cara
di dalam strategi ini yang bisa digunakan sebagai alternatif pemecahan konflik
interpersonal, adalah sebagai berikut :
a.
Pemacahan masalah terpadu (Integrative Problema Solving)
Yaitu usaha untuk menyelesaikan suatu konflik secara
mufakat atau memadukan kebutuhan-kebutuhab dari kedua belah pihak.
b.
Konsultasi proses antar pihak (Inter-Party Process Consultation)
Dalam penyelesaian melalui proses konsultasi, biasanya
ditangani oleh konsultan proses, dimana keduanya tidak memiliki kewenangan
untuk menyelesaikan konflik dengan kekuasaan atau menghakimi salah dan atau
kedua belah pihak yang terlibat konflik
3.
Strategi Mengatasi Konflik Kelompok atau Organisasi (Organizational Conflict)

From: rizkiandk.blogspot.com
Menurut wijono, ada beberapa strategi yang dapat
dipakai untuk mengatisipasi terjadinya konflik dalam organisasi adalah sebagai
berikut :
1.
Pendekatan Biokratis (Bureaucratic Approach)
Konflik bisa terjadi karena adanya hubungan biokratis
yang terjadi secara vertikal. Untuk menghadapi konflik vertikal ini manajer
cenderung menggunakan struktur hirarki (hierarchical structure) dalam
hubungannya secara otokritas.
Konflik seperti ini terjadi karena pemimpin berupaya
mengintrol segala aktivitas, tindakan yang dilakukan oleh bawahannya. Strategi
untuk pemecahan konflik ini biasanya dipergunakan sebagai pengganti dari
peraturan-peraturan biokratis untuk mengontrol pribadi bawahannya.
Pendekatan biokratis (Bureaucratic Approach) dalam
organisasi bertujuan mengantisipasi konflik vertikal (hirarkie) dapat didekati
dengan cara hirarki (organisasi dengan tingkat wewenang dari yang paling bawah
hingga yang paling atas).
2.
Pendekatan intervensi otoritatif dalam konflik konflik lateral (Authoritative
intervention in lateral conflict)
Bila terjadi konflik seperti ini, biasanya cara
penyelesainnya adalah diselesaikan sendiri oleh pihak-pihak yang telibat dalam
konflik. Lalu jika konflik tersebut ternyata tidak bisa diselesaikan secara
konstruktif, cara penyelesainnya adalah manajer langsung melakukan intervensi
secara otoratif kedua belah pihak.
3.
Pendekatan sisten (Systen approach)
Versi pendekatan perundingan menekankan pada
masalah-masalh kempetisi dan model pendekatan birokrasi menekankan pada
kesulitan-kesulitan dalam kontrol, jadi pendekatan sistem (systen approach)
adalah mengkoordinasikan masalah-masalah konflik yang muncul
4. Reorganisasi struktural
(structural reorganization)
Strategi pendekatan bisa mengubah sistem guna melihat
kemungkinan terjadinya reorganisasi struktural untuk meluruskan perbedaan
kepentingan dan tujuan yang hendak di capai oleh kedua belah pihak.
Contoh membentuk wadah baru dalam organsasi non formal
guna mengatasi konflik yang berlarut-larut sebagai akibat dari adanya
ketergantungan tugas (task interdependence) dalam mencapi kepentingan dan
tujuan yang berbeda sehingga fungsi organisasi menjadi buyar.
Namun konflik tidak selamanya berbuah negatif pasti
ada dampak positif dan manfaat-manfaat tersembunyi di dalamnya di antaranya
adalah sebagai berikut >>
Sekian yang dapat saya sampaikan
semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya para pembaca

Tidak ada komentar:
Posting Komentar